Aksara Bali
"Melacak jejak ilahi dalam setiap goresan, dari daun lontar menuju keabadian semesta."
Suara dalam Goresan, Jiwa dalam Aksara
Bagi masyarakat Bali, aksara bukan sekadar simbol bunyi. Ia adalah wujud dari Aji Sastra—ilmu pengetahuan suci yang diturunkan oleh Sang Hyang Saraswati.
Setiap goresan pada daun lontar menggunakan pengerupak adalah proses meditasi. Aksara dipercaya memiliki kekuatan magis yang dapat menyembuhkan, melindungi, bahkan menghubungkan manusia dengan leluhur melalui pustaka lama.

Pustaka Lontar
Warisan Niskala
Aksara Wreastra
18 aksara dasar yang membentuk fondasi bahasa dan sastra Bali, melambangkan perjalanan jiwa manusia.
"Hana (Ada)"
"Nata (Ditata)"
"Citta (Pikiran)"
"Rasa (Perasaan)"
"Karya (Perbuatan)"
"Dadi (Menjadi)"
"Tattwa (Kebenaran)"
"Sakti (Kekuatan)"
"Wani (Berani)"
"Laksana (Tingkah)"
"Madya (Tengah)"
"Guna (Kegunaan)"
"Bayu (Energi)"
"Ngambah (Melalui)"
"Panca (Lima)"
"Jati (Asli)"
"Yana (Kendaraan)"
"Nyatining (Hakikat)"
"Setiap goresan adalah doa, setiap bunyi adalah getaran batin yang menghubungkan manusia dengan Sang Pencipta."
Tiga Dunia Aksara
Tingkatan penggunaan aksara berdasarkan konteks spiritual dan duniawi.

Aksara Wreastra
Gunakan untuk menulis bahasa Bali sehari-hari, surat-menyurat, dan karya sastra umum.

Aksara Swalalita
Digunakan khusus untuk menulis bahasa Kawi (Jawa Kuno) dan Sansekerta dalam naskah agama.

Aksara Modre
Aksara suci yang digunakan untuk simbol keagamaan, mantra, dan rajah magis.
Aksara Wreastra
Digital Transliteration
*Menggunakan font Noto Sans Balinese. Transliterasi digital mungkin memiliki keterbatasan akurasi dibanding penulisan manual pustaka lontar.
Preview
"Menulis adalah cara kita berbicara kepada masa depan. Melalui aksara, kita menjaga lidah leluhur agar tetap bergema di ruang tamu peradaban digital."



